Radar,
tidakkah engkau tahu rasa gelisa hati ini, pikiranku terlalu rumit dan kompleks
tapi aku hanya bisa mengungkapkannya dengan sederhana, bahkan tidak bisa
dikatakan aku telah menuliskannya. Pada setiap titik tinta di ujung pena ini
hanya ada torehan kata-kata tak berjiwa. Bahkan berenggan makna. Aku sedang
memikirkan caramu menyusun kata-kata di kepalamu waktu itu, kau duduk dengan sweater abu-abu dan kupluk merah maron di kepala,
apakah itu telah kau pikirkan di waktu sebelum kita bersama sambil menggenggam coklat
panas dikala hujan dini hari. Di kaki puncak Gunung Rinjani
kau mengungkapkannya padaku saat kita membicarakan hal ringan. Bukankah waktu itu
kau sedang membahas bunga Edellweis yang wanginya melambangkan cinta,
ketulusan, dan keabadian. Ia tinggal di kesejukan yang tinggi dan berdiam
cantik di goyang-goyangkan angin lembah. Kutahu kau tersenyum puas saat berada
di pos terakhir Plawangan Sembalun walaupun kau menutup bibirmu dengan kedua
tanganmu. Aku sedang dilanda perasaan eros yang luar biasa.
14 Juni 2017
14 Juni 2017

