Sekumpulan putih terus menggulung di antara hamparan biru yang luas, tampak gelisah menyusuri tiap jengkal ruangnya. kadang ia menghilang di tengah dan kemudian muncul lagi jika terkena hantaman. Ia Berlari seakan membawa pesan kesunyian atau malah badai yang tengah terjadi di tengah samudra. Pesan yang selalu menggetarkan hatiku dikala radar terbangun di tengah malam.
Menyerbu ia membasuh kakiku, kadang ia menggelitik lucu. atau malah murka manampar pasir. dalam desahan lembutnya ia berbisik pelan menjengkali calah telingaku. dalam diamku ia mulai berkata:" Awal dari sebuah pemikiran ialah kelahiran. keberadaan kita menimbulkan aksi yang abstrak. Kujujuran dan keikhlasan menjadi batas rasa jatuh karena saking bebasnya abstrak itu. Kita semua tahu akan keberadaan kita sendiri hanya seumpama meteorid di luar angkasa. Menunggu dorongan atau ledakan untuk membuat kita berubah, Namun dari itu semua keajaiban seringkali muncul dan menyentuh kita, hanya saja kita seakan mati rasa. Mati bukan hanya sekedar mati yang meninggalkan bekasnya, tapi mati yang dapat memberikan hidup baru pada diri orang lain.
Pernahkah radar berpikir kesenangan fana ini seakan-akan mangambil ahli atas kehendakmu sendiri, sehingga mengacuhkan beberapa hal yang kau sebut itu kebenaran. Membuat dirimu tertidur lelap dangan menyisipkan rasa kesedihan telah meninggalkan kesempatan? Ketuk, ketuk, Ketuk sekali lagi. Dirimu yang di sana masih bisa melihatmu dengan kosong. hanya butuh sepercik api untuk menyalakan lagi semangatnya yang gelap. Akalnya pudar, jiwanya kosong, serta keyakinannya yang rapuh.
Coba pertanyakan lagi, apa yang membuatmu yakin kalau dirimu di atas yang benar? apa karna kamu takut? apa karna kau kosong? apa karna kamu melihat orang-orang juga demikian?. Di dalam laut ada air. kamu bisa basah di dalamnya. Airnya memelukmu begitu erat. hingga ia penuh di hadapanmu, apakah kau mau saja hanyut di dalamnya?"
Oleh: radaryan
15 Maret 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar